Tampilkan postingan dengan label Renungan Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2012

Allah Tidak Butuh Terhadap Hamba-hamba-Nya

Allah s.w.t. itu Mahakaya, tidak membutuhkan sesuatupun dari hamba-hamba-Nya, karena kebutuhan itu adalah tanda kelemahan, dan tidak ada kelemahan pada Tuhan, Dia adalah Pemilik kekuatan dan kekuasaan, Dia-lah yang berfirman "Hai manusia, kamulah yang berkehendak pada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji."  (QS. Fathir: 15)

Ketika manusia melakukan berbagai ibadah dan berjihad, itu tidak lain dikerjakan untuk keperluan dirinya dan untuk kemaslahatannya, dan agar menjadi penyebab keselamatannya pada hari kiamat, dan Allah s.w.t tidak mengambil manfaat dari ibadah dan jihadnya itu, Allah s.w.t berfirman, "Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri, Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Al-'Ankabut: 6)

Sayid Qhutub r.a. berkata, "Jika Allah telah menetapkan fitnah (cobaan) pada orang-orang yang beriman, dan membebani mereka agar berjihad agar diri mereka bisa tegar menanggung beban penderitaan, maka hal itu tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan diri mereka, kesempurnaan mereka, dan untuk menetapkan kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Jihad itu demi kemaslahatan jiwa dan hati orang yang berjihad, mengangkat pandangan dan wawasannya, dan mengentaskan dari kekikiran terhadap jiwa dan harta, serta untuk menghimpun berbagai keistimewaan dan kesiapan yang terdapat pada dirinya. Itu semua sebelum dirinya dapat lolos ke dalam golongan orang-orang yang beriman, kontribusi kebaikan bagi mereka, dan teguhnya kebenaran di antara mereka, dominasi kebaikan atas keburukan, dan dominasi kemaslahatan atas kerusakan di dalamnya." (Fi Zhilal al-Qur'an, 5/2722)

Sesungguhnya jiwa yang enggan melaksanakan ibadah, ia akan mengira bahwa dia mengerjakan ibadah karena Allah butuh padanya, ini merupakan angan-angan yang dilontarkan setan di dalam jiwa mereka, dan membuat mereka lupa bahwa yang paling pertama mendapatkan manfaat dari hal itu adalah diri mereka sendiri, seruan yang tinggi ini tidak lain merupakan upaya membangkitkan kekuatan yang tersembunyi di dalam jiwa manusia agar segera bergegas menyelamatkan dirinya, tidak meremehkan perkara yang agung ini dan tidak menyia-nyiakan waktu, karena tidak ada yang menyelamatkan jiwa kecuali jiwa itu sendiri, yaitu dengan perantara amal perbuatan yang dilakukannya agar setelah itu dia berhak terhadap rahmat Allah s.w.t. dan keridhaan-Nya.


Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Minggu, 21 Oktober 2012

Cinta

Cinta, termasuk kata yang paling banyak digunakan oleh manusia sekaligus yang paling berbahaya. Sebagaimana ia merupakan kata yang suci, banyak orang yang salah dalam mempergunakan dan memahaminya, dan yang paling banyak di akses adalah yang disajikan oleh Barat, yang telah melakukan kesalahan dalam penggunaan dan memahami kata yang agung ini.

Sesungguhnya ketika Barat menggunakan kata ini, dia sering mengkaitkannya dengan hubungan nista sebelum pernikahan, atau yang berakhir dengan pernikahan, atau dengan hubungan antara lelaki dan perempuan tanpa ada ikatan hukum. Dan kata "Bermain Cinta" bagi mereka berarti perbuatan keji atau zina bagi orang-orang yang belum menikah, atau maksudnya berhubungan badan dan berbagai permulaannya bagi orang-orang yang telah menikah, dan orang Barat sangat tidak suka bila anda mengatakan kepadanya, saya cinta padamu (I Love You) karena dia tidak akan mendengar kata-kata ini kecuali dari kekasih atau dari istrinya saja.

Demikian mereka mengaitkan kata yang agung ini dan penggunaannya dengan syahwat dan hasrat yang kuat untuk melakukan hubungan intim, hingga kata ini menjadi tidak lazim bagi orang-orang yang lurus budi pekertinya, lantaran dikaitkan dengan gambaran-gambaran perbuatan keji, vulgar dan kerusakan lewat sarana informasi yang menyiarkan kepada masyarakat puluhan ribu sinetron dan film, para penyanyi dan adegan-adegan sandiwara yang terfokus pada cinta menurut pemahaman ala Barat.

Sesungguhnya cinta bagi kita jauh lebih tinggi maknanya dari semua itu, sesungguhnya cinta itulah yang memasukkan manusia kedalam surga atau bahkan memasukkannya kedalam neraka. Jenis cinta yang paling tertinggi adalah cinta kepada Allah s.w.t. dan kecintaan kepada-Nya merupakan salah satu pokok keimanan, maka tidak mungkin seseorang itu menjadi orang yang beriman tanpa memiliki rasa cinta kepada-Nya, dan juga tidak dikatakan beriman jika dia masih menyekutukan dalam mencintai-Nya dengan lain-Nya.

Dari kecintaan kepada Allah itu lantas bercabanglah cinta yang paling mulia yang diketahui oleh manusia:

Cinta kepada kedua orangtua, karena Allah memerintahkan supaya mencintai kedua orangtua dan Dia mendampingkan perintah ini dengan beribadah kepada-Nya, kecintaan ini juga berkaitan erat dengan Allah s.w.t., dimana bahwasanya cinta ini akan berakhir ketika kedua orangtua itu berpaling dari jalan Allah, dan mengikuti jalan setan, itu merupakan dasar utama dalam menaruh ketaatan, loyalitas, dan dasar penentangan, sesuai dengan Firman Allah s.w.t., "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (QS. Al-Mujadilah:22)

Kecintaan orangtua kepada anak-anaknya,
demikian cinta ini berkait erat dengan Allah s.w.t., dan diantara tanda keimanan adalah, kecintaan ini akan berakhir jika anak-anak itu telah tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana Allah telah memahamkan kita terhadap kaidah ini, yaitu kaidah wala' (loyalitas) dan bara' (penentangan), kepada Rasul-Nya, Nuh, ketika perasaan kebapakannya tergerak saat melihat anaknya yang kafir tenggelam, dia lantas berseru, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar." Allah langsung mengembalikannya pada dasar utama, "Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik." (QS. Hud: 46)

Cinta Isteri.
Cinta semacam ini akan berlipat ganda ketika dasarnya dibangun di atas kecintaan kepada Allah, maka cinta ini akan bertambah seiring kedekatan isteri kepada Allah s.w.t. yang semakin bertambah, dan dia pun menjadi perhiasan dunia yang paling indah, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Rasul yang benar dan dibenarkan,

"Dunia itu, seluruhnya, perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim)

Cinta karena Allah, yaitu cinta di antara para hamba-hamba-Nya yang bertakwa lagi shalih tanpa ada hubungan nasab di antara mereka kecuali hanya nasab akidah, jika salah seorang di antara mereka merasakan cinta seperti ini, dia tidak melihat adanya keengganan untuk mengatakan kepada saudaranya "Aku mencintaimu karena Allah." saudaranya itu pun menerima hadiah yang agung ini dan menjawab dengan berkata, "Semoga anda dicintai Allah yang telah menjadikanmu mencintaiku karena Dia." Saudaranya itu tahu bahwasanya dia tidak mencintainya lantaran suatu tujuan duniawi, maka dari itu dia mendoakan semoga Allah s.w.t. mencintainya.[]


Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 20 Oktober 2012

Menyiasati diri

Jiwa manusia ini termasuk salah satu ciptaan Allah s.w.t. yang sangat menakjubkan, dia siap sedia untuk berubah-ubah sebagaimana yang disebutkan Allah s.w.t., "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams:7-8)

Dan sesuai dengan kadar usaha manusia yang dicurahkan, jiwa itu akan terbentuk dengan kecenderungan kepada ketakwaan atau pun kedurhakaan, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10)

Permasalahan yang sering timbul pada kebanyakan orang itu adalah, ketidakpahaman mereka kepada karakteristik jiwa yang berubah-ubah serta siap untuk berubah-berubah ini, dari kedurhakaan berubah menjadi ketakwaan dan sebaliknya, di samping itu juga sebagaimana yang disebutkan Allah s.w.t. dalam al-Qur'an al-Karim, bahwasanya jiwa itu memiliki sifat dasar menyuruh pada kejahatan (amarah), "Sesungguhnya nafsu (jiwa) itu menyuruh pada kejahatan." (QS. Yusuf: 53) Kecuali jiwa yang dirahmati tuhanku, pengecualian ini khusus bagi orang-orang yang senantiasa mau mendidik dan mensucikan jiwanya, hingga beralih menjadi jiwa yang tenang (muthmainnah) atau jiwa yang menyesali dirinya sendiri (lawwamah) yang dengannya Allah bersumpah dalam al-Qur'an al-Karim.

Supaya seorang muslim itu berhasil dalam pendidikan jiwa ini, maka di harus mengetahui karakter-karakter utama yang dimiliki oleh jiwa ini, serta jalan-jalan yang mesti dilaluinya agar sampai ke relung jiwa yang terdalam dengan selamat tanpa ada kendala yang berarti, di antara berbagai karakter dan tabiatnya itu yang paling utama adalah:

1. Jiwa itu, sebagaimana yang telah kami sebutkan, siap untuk berubah-ubah, dari baik menjadi buruk dan sebaliknya, dan ini tergantung pada seberapa jauh usaha manusia dalam mendidik dan atau menyesatkannya.

2. Jiwa itu mirip dengan otot dari segi pertumbuhan dan perkembangannya, otot yang diciptakan Allah s.w.t didalam badan seseorang itu akan mengeras, kencang dan kuat ketika orang tersebut mulai mengeluarkan tenaga manusiawi yang disebut dengan permainan olah raga, dan bahwasanya jika dia memforsir dirinya dengan berbagai permainan ini sejak permulaan tanpa adanya tahapan-tahapan, maka hal itu akan bisa berakibat menimbulkan berbagai penolakan yang pada gilirannya dia tidak bisa bermain lagi selama hidupnya, atau barangkali hal itu akan menimbulkan cedera pada dirinya untuk selamanya atau pun sementara.

3. Bahwasanya jiwa ini juga seperti halnya otot dari segi pertumbuhan secara bertahap, dia tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi keras dan kuat, maka, orang-orang yang membawa beban-beban berat dan besi, badan mereka tidak akan menjadi kuat dengan kemampuan ototnya seperti ini melainkan setelah usaha keras selama bertahun-tahun dan bukan dengan latihan sekali atau dua kali saja, tapi pertumbuhannya melalui tahapan-tahapan.

4. Untuk menjaga perkembangan otot ini, harus ada latihan secara berkesinambungan, jika terputus otot-otot ini akan akan berubah menjadi lemak dan pemekaran pada daging, dan jasmani yang indah itu berubah menjadi buruk.

5. Demikian juga para ahli olah raga menyarankan  agar seseorang itu memulai latihan-latihan yang mudah, hingga dia menekuninya kemudian beralih ke latihan yang sulit.

Dari semua hal ini kita bisa menggambarkan rencana amal perbuatan untuk mendidik jiwa, agar kita dapat menembus relung jiwa yang paling dalam dengan rahmat dan karunia Allah, dan di dalamnya kita dapat sampai pada puncaknya dengan jalan yang paling mudah dan paling aman:

Pertama: kita harus memulai dengan ketaatan yang ringan terlebih dahulu, maka, orang yang baru mendapatkan petunjuk atau yang telah terputus beberapa waktu setelah sampai ke puncak, kemudian kembali, maka dia harus memulai dari yang mudah yang sesuai dengan tingkatannya dari segi kemampuan, sehingga tidak membuatnya lari sejak memulai perjalanan. Di antara kesalahan yang fatal adalah mengharuskannya bersemangat yang menggelora sejak awal dengan membebani amalan ketaatan yang sulit dan beribadah yang banyak, akibatnya dia akan lari menghindar secepatnya, karena dia tidak siap untuk mengemban hal itu -sebagaimana halnya otot.

Kedua: bertahap dalam melangkah, misalnya, saya memulai dengan melakukan ibadah seperti mengikuti beberapa langkah berikut ini: Dua rakaat sebelum tidur, di dalamnya membaca surat-surat pendek dalam jangka waktu tertentu, bisa tiga bulan atau lebih, hingga bila telah melihat ada kekuatan yang lebih pada dirinya, beralih ke surat-surat yang panjang.

Empat rakaat sebelum tidur, di dalamnya membaca surat-surat pendek selama kurun waktu tiga bulan atau empat bulan.

Tetap mengerjakan shalat empat rakaat ini sebelum tidur, dan berniat pada suatu malam mengerjakan shalat enam rakaat dalam sepekan. Dan terus begitu selama beberapa waktu.

Jika dia melihat ada kemampuan dan kekuatan pada dirinya, hendaknya menentukan satu malam dalam sepekan untuk mengerjakan shalat dua rakaat sepuluh menit sebelum subuh, dan terus begitu selama beberapa waktu dan bisa lebih lama lagi, hingga dia mendapatkan pada dirinya kekuatan lantas semakin bertambah.

Dan demikian juga langkah-langkah ini senantiasa dilakukan pada ibadah-ibadah lainnya, yang terpenting dalam hal itu adalah bertahap. Di dalam al-Qur'an atau Sunnah tidak ada teks-teks yang menunjukan pada jumlah tertentu pada setiap langkah, itu semata-semata tergantung pada ijtihad yang bersumber dari dasar pijakan yang ditunjukan Nabi s.a.w. kepada kita dalam sebuah pernyataan,

"Sesungguhnya agama ini keras, maka masukilah ia dengan lembut." (HR. Ahmad, hasan)

"Tak seorang pun yang mempersulit diri dalam urusan agama kecuali ia akan terbebani." (HR. Bukhari)

Ketiga: mendidik secara berkesinambungan, kaidahnya, bahwasanya membiarkan jiwa selama beberapa waktu secara terpisah-pisah dan tidak teratur tidak pula berkesinambungan akan membuatnya terjebak pada kebimbangan dan kelemahan, ini persis yang terjadi pada otot saat seorang olahragawan memperlakukannya seperti perlakuan ini.

Rasulullah s.a.w. telah memberi kita secercah cahaya kerasulan yang dapat membantu kita dalam pendidikan ini, yaitu saat beliau berkata,

"Amal perbuatan yang paling dicintai Allah itu adalah yang paling berkesinambungan walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: bertanya kepada para ahli dan meyakinkan diri pada langkah-langkah yang diambil. Dan karena dalam hal ini banyak orang yang tergelincir bahkan mungkin orang bisa jauh dari keseriusan yang benar, akibatnya menempuh jalan yang tidak benar lantas dilanda kebingungan, dan setelah itu sulitlah baginya untuk kembali lagi, maka harus bertanya kepada orang-orang yang ahli dalam bidang ini, mereka yang berjalan sesuai dengan petunjuk Nabi s.a.w., jauh dari berbagai hal yang diada-adakan pada agama ini agar mereka dapat memberinya petunjuk ke jalan yang benar, dan untuk memperbaiki perjalananya jika dia telah menyimpang dari sunnah, ini persis seperti orang yang ingin membentuk serta mengembangkan ototnya, dia bertanya kepada orang-orang yang ahli olah raga tentang langkah-langkah yang benar berkait dengan hal itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak baik akibatnya.

Semua ini tidak ada yang dapat memahaminya dengan benar kecuali orang yang telah mengenal tabiat jiwa dan juga mengenal iklim tempat jiwa itu dapat hidup berkembang sebagaimana yang telah dipahami oleh Musthafa Shadiq ar-Rafi'i saat berkata, "Seperti pohon, ada iklim yang cocok yang dapat melindunginya...ada iklim yang dapat membuatnya layu..dan ada iklim yang membuatnya punah.. demikian juga yang dilakukan jiwa jika terkondisikan oleh suatu iklim." (Wahyu al-Qalam, 2/201)

Yang kami sebutkan ini adalah bagian kecil dari seni mendidik jiwa yang dilakukan oleh manusia sedikit demi sedikit secara konsisten, sehingga dia dapat mengentaskan jiwanya dari wilayah ajakan pada kejahatan (jiwa amarah) ke wilayah ketenangan (muthma'innah) dan penghayatan diri (lawwamah) yang dapat membuatnya terus menanjak ke derajat para salikin.[]

Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Selasa, 16 Oktober 2012

Takut Kepada Setan

Setelah shalat Isya', ada seseorang yang datang kepadaku dengan kedua matanya sembab hampir mengucurkan air mata, dia bertanya kepadaku tentang permasalahannya yang tidak dapat dipecahkannya sendiri, lantas dia berusaha mengajak musyawarah saudara-saudaranya untuk mencari solusinya. Kesimpulan dari permasalahannya itu adalah, bahwasanya jika mendapat kebaikan dia mau memenuhi perintah Allah, dan jika ditimpa keburukan dia akan menjauh dari jalan Allah. Sebab dia menjauh  ketika ditimpa keburukan itu adalah, bahwasanya dia berkata didalam hatinya, apa manfaat ibadah kalau keburukan ini tidak kunjung sirna setiap kali menjalankan perintah Allah, maka dia pun lantas memutuskan untuk meninggalkan ibadah itu.

Saya katakan kepadanya: saudaraku tercinta, kita harus membedakan antara dua hal, pertama; berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah s.w.t  kepada kita supaya menyelamatkan diri kita dari api neraka dan meraih kemenangan dengan menggapai keridhaan dan surga-Nya.

Kedua; musibah yang dengannya kita diuji dalam kehidupan.

Adapun yang pertama, maka harus senantiasa dilaksanakan pada setiap kondisi dan setiap waktu, karena yang pertama dan terakhir mengambil manfaat dari pelaksanaan ibadah itu adalah manusia itu sendiri, sebab Allah s.w.t tidak butuh kita, Dia Maha kaya lagi Maha Terpuji. Jika kita lalai dalam melakukan kewajiban-kewajiban ini, maka kita lah yang merugi, sebab melakukan kewajiban itu merupakan salah satu sebab keselamatan dari api neraka, dan hal ini tidak berkaitan dengan musibah, dan seharusnya tidak ada pengaruh negatif terhadap pelaksanaan kewajiban-kewajiban lantaran keburukan yang kita alami didalam hidup kita.

Adapun hal yang kedua adalah bala', Anda harus mengetahui bahwa bala', atau cobaan atau ujian yang ditakdirkan Allah bagi hamba-hamba-Nya itu tidak terbatas pada keburukan saja, tapi ujian itu juga berupa kebaikan, seperti disebutkan dalam firman Allah s.w.t., "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Bahkan sebaliknya, sesungguhnya keberhasilan dalam menghadapi ujian keburukan ini lebih mudah dari pada keberhasilan dalam menghadapi ujian kebaikan, hal itu disebabkan orang yang diberi cobaan dengan kemiskinan misalnya, dia tidak dituntut kecuali bersabar, karena dia tidak memiliki sesuatu untuk berbuat. Tetapi lain lagi dengan cobaan model yang kedua, yaitu orang yang diberi cobaan dengan harta, maka dengan memiliki harta itu dia memiliki kesempatan untuk melakukan kemaksiatan dan enggan memberi, melalaikannya dari kewajiban-kewajiban serta merasa bahwa dia tidak lagi membutuhkan Allah s.w.t. Akibatnya keberhasilan dalam ujian ini menjadi sulit diraih kecuali oleh orang yang menjadikan akhirat sebagai fokus perhatiannya yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan lainnya.

Ia memotong pembicaraan ku dan berkata kepadaku: saya mengetahui itu semua, tetapi setan itu kuat dan kuat sehingga dapat mengalahkan ku dan aku pun menuruti apa yang dia katakan kepadaku, lantas apa yang harus aku lakukan supaya dapat mengalahkannya? Saya berkata kepadanya: saudaraku tercinta.

Ingatlah, bahwasanya masih ada orang yang lebih pahit cobaan nya dari pada anda. Jika anda hidup sendirian sebagai bujangan yang tidak memiliki  pekerjaan sehingga anda tidak memiliki mata pencaharian, dan untuk makanmu, maka ketahuilah bahwa disana ada sejumlah keluarga yang tidak punya mata pencaharian, namun menahan diri untuk tidak meminta-minta kepada orang lain. Bagi orang yang tidak tahu, akan mengira bahwa mereka itu adalah orang-orang kaya karena tidak meminta-minta kepada orang lain, tapi walaupun demikian, ketika berbaur dengan orang lain anda akan heran, bagaimana mereka tertawa, bercanda ria dan giat berdakwah, tetap bisa beribadah, bahkan bertambah dekat kepada Allah. Mungkin anda akan tercengang ketika mengetahui bahwa orang-orang semacam mereka itu tak punya mata pencaharian yang tetap dan pakaiannya pun hanya yang melekat di badan mereka. Rasulullah s.a.w. telah berwasiat agar kita, ketika sedang ditimpa musibah, melihat kepada yang dibawah kita. Itu akan dapat meringankan musibah yang kita derita itu.

Saudaraku tercinta, ketahuilah bahwa Allah s.w.t. menimpakan cobaan kepada seseorang jika Dia melihatnya telah melakukan kemaksiatan, agar dia mau kembali kepada-Nya dan bertambah dekat dengan-Nya hingga Dia mengampuni dosa-dosanya itu. Dan ketahuilah bahwa seseorang itu diberi cobaan sesuai dengan kadar keimanan nya.

Dan jangan lupa bahwa setiap musibah yang menimpa seorang muslim baik itu kegundahan, kegelisahan, bencana, kesedihan penyakit, dan luka, itu semua berpahala, dan hal itu dapat menghapus dosa-dosanya.

Mukanya berbinar-binar sambil mengusap deraian air matanya, dan berkata dengan perasaan penuh kegembiraan: apakah benar itu akan dapat menghapus dosa-dosanya dan berpahala? Lalu saya katakan: ya, sebenarnya urusan seorang muslim itu semuanya baik dan tidak pernah merugi sama sekali, hal itu pun semakin menambah kegembiraannya dan saya berkata kepadanya: saya tutup perkataanku dengan menyampaikan saran, jangan lupa berdoa dan merendahkan diri kepada-Nya di saat melakukan sujud agar Dia memberimu kekuatan iman, kesabaran, dan menolongmu dalam menghadapi setan, benar bahwa setan itu kuat, tetapi Allah lebih kuat, maka, siapa yang berlindung kepada Allah, niscaya Dia menolongnya dalam menghadapi setan.[]

Abdul Hamid al-Bilaly



Baca Selengkapnya..

Minggu, 14 Oktober 2012

Doa Dan Realita

Ketika ada seseorang meminta segelas air dari orang lain, tapi, ketika air itu diberikan kepadanya dia menolak air itu, maka, sebutan apa yang cocok bagi orang seperti itu? Dan ketika jiwa orang itu berulang-ulang meminta air dari orang tersebut, tapi setiap kali dia memberikannya saat itu juga orang itu menolaknya.. apakah dia dinamakan sebagai orang gila, stres, pembohong, suka bermain?

Sangat mungkin sekali orang itu diberi sebutan apa pun di antara sebutan-sebutan tersebut atau yang mirip dengannya.. Jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengerjakan shalat dan mereka semua juga membaca surah al- Fatihah yang merupakan salah satu rukun shalat yang tidak akan sah shalat itu kecuali dengan membaca surah ini. Mereka membacanya dalam sehari sebanyak tujuhbelas kali, diluar sunah-sunah rawatib yang otomatis menambah jumlah bacaannya ini, ini artinya, bahwasanya mereka mengulang-ulang doa setiap kali membaca,
"Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Pada kenyataannya, sebagian besar mereka tidak mengucapkan demikian,... memang, lisan mereka mengatakan ya Tuhan "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah," maksudnya hanya kepada- Mu kami tunduk, hanya kepada-Mu kami taat, hanya kepada-Mu kami mengikuti dan hanya kepada-Mu kami berserah diri, kami patuh dan tidak takut kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak berharap kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak tunduk kecuali hanya kepada peraturan-Mu dan kami tidak takut kecuali hanya kepada-Mu.

Tapi realita diri mereka sendiri tidak mengatakan demikian, mereka tunduk kepada manusia, patuh kepada orang-orang yang membuat aturan-aturan manusiawi yang tidak berdasarkan pada peraturan Allah, mereka bergetar saat di teror sesama manusia, dengan memutuskan penghasilan,  atau di teror dengan pembunuhan, mereka menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan yang mereka patuhi, mereka merendahkan diri dan takut kepadanya, tunduk kepadanya, dan menyerahkan diri mereka kepadanya. Sesungguhnya hawa nafsu mereka, para pemimpin mereka, syahwat mereka , wanita mereka, harta mereka, pakaian mereka, kendaraan mereka, binatang ternak mereka, kedudukan mereka, dan semua perhiasan yang ada dimuka bumi ini adalah tuhan-tuhan selain Allah, walaupun demikian selama sehari penuh mereka mengatakan lebih dari tujuhbelas kali "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah."

Dan mereka mengatakan, "Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan," maksudnya bahwasanya kami ya Tuhan, jika tertimpa musibah, cobaan, membutuhkan pertolongan, dan saat kami lemah, kami tidak menghadapkan diri kami kepada seorang pun selain Engkau untuk memohon pertolongan dan agar kami selamat dari musibah tersebut. Tetapi realita tidak mengatakan demikian, sesungguhnya jika mereka ditimpa musibah atau kesulitan hidup, mereka menghadapkan diri mereka kepada sesama makhluk sebelum menghadap kepada sang Khaliq (Pencipta), dan mereka meyakini bahwasanya makhluk itu memiliki kemampuan mendatangkan manfaat atau bahaya, mereka sama sekali lalai untuk menghadapkan diri, kembali dan bersimpuh dihadapan Allah, padahal sesungguhnya mereka mengatakan "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Yaitu jalan yang dilalui oleh para salafus shalih; para pengikut nabi-nabi, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat. Tapi realita tidak  mengatakan demikian, mereka masih tetap melakukan kemaksiatan, masih melakukan riba, zina, memandang apa-apa yang diharamkan Allah, berbohong, membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, menipu, kedengkian yang memenuhi hati mereka dan lemah semangat, mempertuhankan dunia dan tidak memiliki komitmen, lalu petunjuk yang mana yang mereka kehendaki??

Apakah hal ini berarti bahwa jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia itu berbohong kepada Allah, dan menipu-Nya sebanyak tujuhbelas kali dalam sehari, dan keadaan mereka seperti orang gila yang meminta air dari orang yang memilikinya tetapi ketika diberi dia menolaknya. Apakah itu merupakan kebiasaan yang telah dominan hingga mencabut hubungan antara perkataan dan perbuatan, dan ini merupakan penyakit jiwa yang tidak dikenali  ataukah merupakan kebohongan yang menyelimuti kehidupan kita, sehingga kita tidak bisa membedakan antara dusta kepada manusia dengan dusta kepada Allah, ataukah itu merupakan materialisme yang telah menyelimuti hati hingga menjadi seperti penyakit kronis yang membutakan penglihatan manusia dari pandangan yang hakiki dan dari kecermatan, ataukah itu merupakan kemaksiatan-kemaksiatan yang membuat hati menjadi buta? Ataukah itu merupakan kumpulan dari semua itu? Jika hal ini benar, maka ini benar-benar merupakan  bencana yang melanda umat ini.

Allah s.w.t berfirman, "Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.: (QS. Ash-Shaff: 3) []


Abdul Hamid al-Bilaly


Baca Selengkapnya..

Coment Here . . . ! ! !

Yanto Biggoss © 2008 Template by:
SkinCorner